DEPOK, HETANEWS.com - Universitas Indonesia, melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), kembali membuka program bersama dengan tiga kampus asal Belanda yang beraliansi yakni Leiden University, TU Delft, dan Erasmus University Rotterdam atau dikenal dengan LDE Universities.
Program bersama, yang disebut Joint Minor Program FISIP UI – LDE 2025, dibuka untuk kedua kalinya pada Agustus-Desember 2025 setelah program pertama berhasil dilakukan di tahun 2024 dan menarik banyak minat para mahasiswa dari kampus-kampus tersebut.
Joint Minor Program FISIP UI - LDE 2025 resmi dibuka oleh Dekan FISIP UI Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto di Auditorium Juwono Sudarsono, Gedung A, FISIP UI.
Program bersama itu dirancang sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan pendidikan interdisipliner yang melampaui batas negara, sehingga memungkinkan para mahasiswa terlibat dengan berbagai perspektif dan mengembangkan wawasan global, khususnya terkait future challenge di Indonesia.
Melalui kerja sama antara FISIP UI dan aliansi universitas LDE Belanda itu, program tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendorong inovasi, pemikiran kritis, dan pemahaman lintas budaya.
Pada tahun kedua joint program tersebut, jumlah mahasiswa yang terlibat mengalami peningkatan menjadi 40 orang dari 27 orang pada program di tahun sebelumnya. Antusiasme tidak hanya datang dari para mahasiswa FISIP UI, tetapi juga dari fakultas lain.
Setelah melewati proses seleksi yang cukup kompetitif, para mahasiswa yang dinyatakan lulus untuk mengikuti program tersebut ialah 14 orang dari FISIP UI, satu orang dari Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI, enam orang dari TU Delft, lima orang dari Erasmus University Rotterdam, dan 14 orang dari Leiden University.
Dalam sambutannya, Prof. Aji mengatakan program tersebut menjadi sebuah kehormatan bagi UI karena dapat kembali bekerja sama dengan aliansi universitas LDE itu untuk kedua kalinya melalui Joint Minor Program.
“FISIP UI terus memperkuat kemitraan dengan Leiden University, TU Delft, dan Erasmus University Rotterdam. Dengan mengusung tema ‘Future Challenges Beyond the Indonesian City’, program ini mengajak para mahasiswa untuk secara kritis merefleksikan dan bersama-sama merumuskan solusi atas isu-isu mendesak seperti tata kelola, perubahan sosial, dan transformasi perkotaan. Atas nama FISIP UI, saya bangga menjadi tuan rumah bagi sebuah wadah pembelajaran, pertumbuhan, dan kolaborasi internasional yang bermakna dan kami meyakini akan memberikan dampak yang berkelanjutan,†kata Prof. Aji.
Secara spesifik kerja sama tersebut menjadi salah satu jalan untuk semakin memperkuat hubungan kerja sama antara UI dengan aliansi kampus asal Belanda itu. Sementara itu, bagi para mahasiswa, program tersebut juga dapat menjadi ajang untuk memahami dan mempelajari lebih jauh terkait kebudayaan masing-masing, terutama kebudayaan dan tantangan di Indonesia.
Perwakilan dari aliansi universitas LDE, sekaligus direktur KITLV Jakarta, Marrik Bellen, berharap program tersebut dapat memperluas wawasan para mahasiswa mengenai “Future Challenges Beyond the Indonesian Cityâ€, serta menjadi wadah untuk mendiskusikan berbagai Solusi dari perspektif Barat maupun Indonesia.
“Kami juga berharap pengalaman ini menjadi pengalaman yang bermakna bagi para mahasiswa UI dan LDE, serta memberikan kesempatan untuk menjalin pertemanan baru dan menciptakan kenangan yang berharga selama berada di Indonesia,†kata Marrik Bellen.
Mahasiswa TU Delft bernama Koos Goudswaard menyebutkan bahwa keikutsertaannya pada program itu dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk banyak belajar dari Indonesia, khususnya tantangan yang ada di Indonesia saat ini.
“Mengikuti program joint minor ini merupakan kesempatan istimewa untuk belajar tentang Indonesia, sambil berkontribusi melalui kegiatan riset. Tinggal di Jakarta selama beberapa hari saja sudah memberikan saya begitu banyak pengalaman baru dan teman-teman baru. Saya sangat berterima kasih kepada Universitas Indonesia, LDE Centre, dan seluruh mahasiswa atas sambutan hangat yang saya terima,†kata Goudswaard.
Sementara itu, mahasiswa Departemen Antropologi Sosial FISIP UI Alecia Hasna Mahira Farliando mengaku tertarik mengikuti joint program tersebut karena temanya relevan dengan isu global serta mendorong pendekatan interdisipliner.
“Saya antusias berdiskusi dan bertukar perspektif dengan mahasiswa dari LDE melalui kegiatan kelas maupun fieldwork. Pengalaman ini saya harap dapat memperkaya pemahaman saya tentang Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi antara FISIP UI dan LDE di masa depan,†kata Alecia.
Program itu juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia yang beragam. Bersamaan dengan itu, pada acara pembukaan ini menampilkan tarian tradisional dari wilayah Indonesia, yakni Tarian Hanareswa yang dibawakan oleh Komunitas Tari FISIP UI (KTF).
Joint Minor Program FISIP UI-LDE di tahun 2025 ini diharapkan dapat kembali menuang kesuksesan seperti tahun sebelumnya, khususnya dapat menjadi sarana dan wadah untuk mahasiswa dari FISIP UI dan LDE untuk saling mempelajari Indonesia dari berbagai multi-disiplin.
Sumber