Liputan6.com, Jakarta - Angka 80 menjadi benang merah antara Sate Khas Senayan, yang kini berganti nama jadi Sate House Senayan, dan Kemerdekaan Indonesia. Awal Agustus 2025, jaringan restoran Indonesia itu membuka cabang ke-80 di Amsterdam Belanda, jelang peringatan HUT ke-80 RI pada 17 Agustus 2025.
Lokasinya gerai ke-80 itu berada di Reestraat 11 Amsterdam. Itu sekaligus menandai ekspansi pertama Sarirasa Group di bawah bendera Sarirasa Europe ke luar negeri.
CEO Sarirasa Internasional, Stephen Tanaja menjelaskan bahwa keputusan ekspansi yang diumumkan sejak tahun lalu itu adalah untuk mendukung diplomasi budaya Indonesia di luar negeri. Belanda dipilih bukan hanya karena kedekatan historis dan jumlah diaspora Indonesia yang besar, tetapi juga karena pasar kuliner Eropa mulai terbuka pada makanan autentik dari Asia Tenggara.
Selain itu, pembukaan restoran tersebut sebagai sebuah undangan pulang kampung bagi diaspora dan bagi para pecinta kuliner dunia untuk mengenal Indonesia. "
Sate House Senayan bukan sekadar restoran, tetapi juga perwakilan budaya. Kami ingin memperkenalkan lebih dari sekadar makanan, tetapi juga cerita, nilai dan identitas Indonesia," kata Stephen dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Sabtu, 2 Agustus 2025.
2 dari 4 halaman
Suasana pembukaan restoran Sate House Senayan di Amsterdam, Belanda. (dok. Sarirasa Group)... Selengkapnya
Karena bagian dari diplomasi budaya, pihaknya sangat detail mempertimbangkan setiap aspek restoran, termasuk desain interiornya. Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disambut dengan nuansa Indonesia yang kental.
Sentuhan mebel dari kayu Jepara, kain-kain tradisional, serta elemen dekorasi yang dikurasi secara saksama menghadirkan cerita dari berbagai penjuru Nusantara, dari Jawa hingga Bali dan wilayah lainnya. Batik klasik berpadu indah dengan desain modern, menciptakan suasana yang tak sekadar estetis, tapi juga emosional—seolah mengajak setiap tamu untuk "pulang" ke Indonesia.
Tentu, bintang utamanya adalah sate ayam Ponorogo yang jadi menu andalan restoran yang tahun ini genap berusia 51 tahun. Hidangan itu akan dikombinasikan dengan kreasi koktail yang terinspirasi dari minuman tradisional, seperti bir pletok, es teler, atau rempah-rempah lokal seperti temulawak.
Stephen meyakini hal itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar internasional. "Respons yang diterima sangat positif dan memperkuat keyakinan bahwa rasa Indonesia punya tempat di hati masyarakat dunia," ucap Stephen.
3 dari 4 halaman
Tiga generasi pendiri dan pewaris bisnis Sate Khas Senayan hingga berkembang menjadi Sarirasa Group. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah)... Selengkapnya
Penyajiannya nanti akan disemarakkan dengan berbagai acara kolaboratif, seperti pameran seni hingga pertunjukan budaya secara berkala. Itu adalah bagian pengembangan restoran sebagai ruang budaya agar masyarakat internasional bisa mengenal budaya Indonesia tidak hanya lewat rasa, tetapi juga visual, suara, dan pengalaman.
"Sarirasa menyadari bahwa kuliner adalah bagian penting dari diplomasi budaya. Oleh karena itu, ekspansi global ini tidak hanya fokus pada makanan tetap juga disertai dengan upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui kain tradisional, seni rupa, kriya hingga pertunjukan," ujar Stephen.
Untuk menyukseskan misi ini, Sarirasa menggandeng berrbagai pihak, mulai dari kementerian terkait, KBRI/KJRI, asosiasi diaspora, hingga komunitas budaya dan tokoh kuliner Indonesia. Pihaknya berharap bisa menjadi bagian dari ekosistem diplomasi budaya Indonesia di luar negeri, sekaligus membuka peluang bagi pelaku kreatif tanah air untuk tampil di panggung internasional melalui medium kuliner.
"Kami percaya bahwa makanan yang baik selalu membawa cerita, dan lewat cerita-cerita inilah, kita membangun pemahaman lintas budaya," ucap Benny Hadisurjo, Direktur Sarirasa Group.
Sumber